Wisata Budaya Solo Ketoprak Bale Kambang

Posted on

Ketoprak Bale Kambang adalah salah satu Kesenian Wayang Orang yang terkenal di Kota Solo, tepatnya di daerah Balekambang. Dahulu kesenian ini merupakan kesenian rakyat yang sangat disenangi masyarakat Solo, namun sekarang nasibnya mulai memprihatinkan, karena masyarakat Solo tidak tertarik lagi untuk menonton pertunjukkan Ketoprat Bale kambang. Upaya yang dilakukan pihak Dinas Pendidikan dan Kebudayaan untuk melestarikan sudah dilakukan misalnya sesering mungkin menampilkan Ketoprak di Taman Balekambang, mudah-mudahan upaya ini mendapat respon dari masyarakat Solo.

Menurut Nano Pramudyo yang berprofesi sebagai sutradara dan pemain Ketoprak Bale Kambang, Nama Ketoprak Bale Kambang diciptakan oleh kaum ningrat di keraton kasunanan Surakarta pada tahun 1901.

ketoprak-balekambang

Sejarah Ketoprak Bale Kambang

Ketoprak adalah drama tradisional yang diperagakan oleh sebuah grup kesenian dan digelarkan di sebuah panggung dengan mengambil cerita dari sejarah, cerita panji, dongeng dan lainnya dengan diselingi lawak. Kesenian ini diiringi musik dari gamelan yang berupa lesung, alu, kendang dan seruling.

Ketoprak juga merupakan satu dari puluhan kesenian tradisional yang masih dapat bertahan hingga sekarang. Kesenian ini lahir sekitar tahun 1887 dan mulai dipentaskan dengan lengkap seperti sekarang pada tahun 1909.

Salah satu jenis ketoprak di tanah Jawa yang populer dan memiliki nilai historis tinggi adalah Ketoprak Bale Kambang yang terletak di Taman Bale Kambang, Solo Jawa Tengah.

Pada awalnya ketoprak Bale Kambang didirikan agar dapat dijadikan sebagai tempat perkumpulan pemuda, karena saat itu kontrol pemerintah Belanda sangat ketat terhadap kegiatan perkumpulan pemuda Indonesia. Oleh karena itu, tujuan pendirian ketoprak bale kambang ini oleh kaum ningrat di Keraton Kasunanan Surakarta adalah untuk sarana perkumpulan pemuda Indonesia.

Pada awal berdirinya tahun 1901 telah disebutkan bahwa ketoprak Bale Kambang merupakan salah satu strategi, untuk mengumpulkan para pemuda agar tidak dicurigai oleh pemerintah Belanda. Dimana saat itu pertunjukkan ini diadakan di Pendopo Keraton Kasunanan Surakarta.

Namun setelah zaman kemerdekaan tepatnya pada tahun 1950-an, kesenian ini pun murni sebagai sarana hiburan dan lokasi pertunjukkan pun selalu berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lainnya. Hingga pada tahun 1989 menetap di salah satu gedung di daerah Bale Kambang yang terletak sebelah utara Kota Solo, itulah cikal bakal nama kesenian ini dinamakan sebagai ketoprak Bale Kambang.

Pertunjukan Ketoprak Bale Kambang

Sejak saat itu Ketoprak Bale Kambang selalu dipentaskan di gedung pertunjukan di daerah Bale Kambang dengan Lakon yang di pentaskan umumnya bercerita tentang sejarah yang dibumbui legenda dan mitos.

Lakon yang dimainkan memiliki tema percintaan, peperangan dan lain-lain. Selain itu juga, lakon yang ditampilkan tidak terkesan serius dan kaku namun diselingi dengan humor dan canda agar tetap menarik penonton untuk datang menonton acara pertunjukan.

Ketoprak Bale Kambang Saat ini

Sebagai pekerja seni, kehidupan ekonomi para pemain Ketoprak Balekambang sangat memprihatinkan. Uang yang didapat dari hasil pementasan tidak lah cukup untuk mmembiayai keluarga masing-masing, namun karena kecintaannya pada dunia seni para pemain tetap bersemangat bila melakukan pertunjukan. Bila tidak melakukan pertunjukkan para pemain berprofesi ada sebagai tukang becak, penjual jamu dan lainnya.

Sepinya penonton berdampak terhadap kelestarian kesenian ini, bagamana tidak karena dari uang karcis hasil penonton lah yang dapat digunakan menghidupi para pemain dan juga kesenian ketoprak bale kambang ini.

Pertunjukan Ketoprak Balekambang sampai saat ini masih berlangsung walaupun pendapatan dari karcis tidak dapat memenuhi kebutuhan pemain, sudah dilakukan upaya kelanjutan untuk melestarikan seni Ketoprak balekambang ini seperti ada bantuan donatur untuk biaya operasional dan gaji para pemain.

Tahun 2006, Walikota Solo ketika itu, Jokowi, merevitalisasi Taman Balekambang. Penataan ulang inilah yang kemudian menumbuhkan kembali semangat berketoprak di antara beberapa pemain senior. Maka, tahun 2007, beberapa seniman ketoprak Solo pun melahirkan Ketoprak Ngampung yang sesenungguhnya merupakan metamorfosa dari Ketoprak Balekambang.

Pembaruan yang paling terlihat adalah banyak ditemukannya bentuk-bentuk komedi yang mengadopsi permainan Lenong Betawi serta perkelahian gaya film kungfu mandarin yang kocak. Sesekali, komunitas ini juga menyerap dagelan gaya Srimulat. Alhasil, bentuk pertunjukan yang mereka mainkan pun menjadi lebih kaya, atraktif dan komunikatif dengan bumbu-bumbu humor segar.

Para pemain bukan sekadar hapal lakon, namun juga sangat fasih dalam menyampaikan parikan (pantun berbahasa Jawa) yang segar, kocak, dan menggelitik. Bukan sekadar membanyol, cerita garapan ketoprak ini juga aktual dan kritis. Mereka tidak menampilkan lakon-lakon pakem ketoprak pada umumnya, tapi lebih pada lakon-lakon carangan-lakon tambahan biasanya karangan sendiri- yang diambil dari masyarakat atau peristiwa-peristiwa aktual.

Mereka menyiasati berkurangnya peminat ketoprak di gedung-gedung kesenian dengan cara menggelar pentas ketoprak dari satu kampung ke kampung yang lain. Panggung ketoprak bisa di lapangan desa, kebon tebu, pendapa kantor kelurahan, perempatan jalan, dan bahkan pinggiran rel kereta api. Pentas seperti ini sekaligus menjawab tantangan bahwa ketoprak tidak dibatasi ruang dan waktu.

Selama lima tahun keliling kampung, Ketoprak Ngampung setidaknya telah membawakan 50 lakon yang naskahnya ditulis sendiri oleh beberapa pemainnya. Semuanya bercerita tentang peristiwa-peristiwa sederhana yang biasa terjadi di kehidupan nyata masyarakat bawah. Tak hanya sebatas pentas di Solo, kelompok ini juga beberapa kali mengikuti festival di beberapa kota, seperti Yogyakarta, Semarang, Jakarta, dan Surabaya. Periode 2010-2011, Ketoprak Ngampung juga telah menggelar pentas keliling Sumatera dan Kalimantan untuk menghibur para transmigran yang memang banyak berasal dari Jawa.

Sebagai generasi penerus bangsa wajib untuk menjaga dan melestarikan kebudayaan yang kita miliki, dengan turut berperan aktif dalam menghidupkan kesenian Ketoprak Bale Kambang ini, baik sebagai penonton maupun sebagai pemain.

Kesenian Ketoprak Bale Kambang tidak hanya merupakan sebuah hiburan semata, namun dilihat dari sejarahnya kesenian ini memiliki nilai historis yang tinggi. Begitupun di dalam pertunjukkannya, kesenian ini tidak hanya menampilkan tontonan namun juga tuntunan bagi pemain maupun penontonnya.

sumber : kemdikbud.go.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *